![]() |
| Laterneumzug (berjalan bersama lampion) |
Peringatan Hari St. Martin di Jerman
Belahan
bumi Eropa mulai memasuki musim gugur. Jam bergeser sejam akibat saving day light. Hari semakin pendek.
Sebaliknya, malam makin lama. Matahari mulai menampakkan diri hampir pukul
delapan pagi. Setengah lima sore, sudah mulai kembali ke peraduan.
Sementara
itu, aktifitas alam berganti. Angin kencang sering menyapa. Menerbangkan
dedaunan kering yang masih tertinggal di pohon. Mendung dan hujan juga lebih
sering membasahi bumi. Hari terasa kelabu. Ditambah suhu yang semakin mendekati
titik beku.
Aktifitas
masyarakat berlaku seperti biasa. Yang kerja, jamnya biasa. Tidak berkurang. Anak-anak tetep ceria ke sekolah. Walau
dengan jaket tebal, syal, dan sarung tangan. Di bulan-bulan ini beberapa kota
semarak dengan festival lampu. Ada hari khusus di mana suatu kota benar-benar bermandikan cahaya. Serta festival lampion untuk mengenang jasa St.
Martin.
St.
Martin de Tours, salah satu orang suci terkenal di gereja Katolik, dulunya
adalah punggawa Romawi. Ia kemudian menjadi tokoh agama. Menjadi bishop ketiga
di kota Tours, Perancis. Beliau terkenal akan kedermawanannya. Terutama kepada
rakyat miskin. Di musim dingin, beliau membagikan roti dan selimut untuk mereka
yang membutuhkan. Relik St. Martin masih berada di kota Tours.
Hari
St Martin sendiri jatuh pada tanggal 11 November. Sedangkan festival lampion
atau Laterneumzug biasanya berlangsung sekitar pertengahan November. Ia ramai
dirayakan di taman kanak-kanak serta sekolah dasar di sebagian Jerman.
Seminggu
sebelum festival, anak-anak atau orang tua membuat lampion sendiri. Anak-anak membuatnya di sekolah. Saat taman kanak-kanak pun guru mengajarkan anak-anak membuat lampion. Jika tidak
sempat, bisa membelinya di toko. Lengkap dengan tongkat berlampu mini. Ada pula yang membuat tongkat sendiri. Lampunya dari lilin kecil. Tapi harus hati-hati memegangnya. Khawatir terbakar. Mereka juga diajari lagu-lagu St. Martin.
Perayaan
berlangsung di sore hari. Sekitar pukul 6 sore. Anak-anak berkumpul, membawa
lampionnya masing-masing. Lampion tersebut disinari lampu dari tongkat yang
dibeli di toko atau dimasuki lilin di dalamnya.
Anak-anak
dan orang tua akan berjalan keliling desa atau jalanan di kota. Sambil
menyanyikan lagu St. Martin. Diiringi oleh grup musik desa. Seorang sosok
berkuda, berperan sebagai St. Martin. Menunggang kuda paling depan.
Rombongan
berhenti di sebuah lapangan. Di mana api unggun dinyalakan, dan cerita mengenai
St Martin diperdengarkan. Acara seperti ini, melibatkan polisi dan pemadam
kebakaran setempat. Setelahnya anak-anak kembali berjalan ke arah sekolah. Bersiap
menerima pembagian roti. Buat para orang tua, pihak sekolah menjual kopi dan minuman hangat lainnya. Keuntungannya untuk kegiatan sekolah.







keren
ReplyDeleteSeru pesta lampion
ReplyDeletesambil menyanyi laterne laterne...... :D
ReplyDeleteSyahdu sekali, bergumul dengan api unggun dan mendengar cerita sang dermawan.
ReplyDeleteMembayangkan pesta lampion dimusim gugurnya jerman... ngilerrr
ReplyDeleteWah mantap gan, dulu di Semarang juga ada sayang waktu itu gak hadir :D
ReplyDeletejadi pengen ngerasain pesta lampion juga :(
ReplyDeleteNtar tgl 10 ini kita rayakan Mortensaften mak...makan bebek :)
ReplyDeleteSepertinya seru festival lampion ala Jerman ini. Jadi pengen merasakan juga suatu hari nanti. Semoga bisa #kumpulinduitlagi
ReplyDeleteSalam kenal mbak
Masya Allah, pengalaman mba Ira bikin mupeng.
ReplyDeletePesta lampion yang bersejarah, menurut saya. Karena tradisinya berkaitan dengan sejarah jadiu ada semacam jejak untuk dinapaktilasi. Duh.
ReplyDeleteDi sini mah mana ada festival lampion yang berlatar demikian, adanya cuma perayaan untuk menunjang parawisata, he he.