Thursday, December 3, 2015

Teladan dari Sang Dermawan

Festival lampion jerman
Laterneumzug (berjalan bersama lampion)
Peringatan Hari St. Martin di Jerman
Belahan bumi Eropa mulai memasuki musim gugur. Jam bergeser sejam akibat saving day light. Hari semakin pendek. Sebaliknya, malam makin lama. Matahari mulai menampakkan diri hampir pukul delapan pagi. Setengah lima sore, sudah mulai kembali ke peraduan.


Sementara itu, aktifitas alam berganti. Angin kencang sering menyapa. Menerbangkan dedaunan kering yang masih tertinggal di pohon. Mendung dan hujan juga lebih sering membasahi bumi. Hari terasa kelabu. Ditambah suhu yang semakin mendekati titik beku.

Aktifitas masyarakat berlaku seperti biasa. Yang kerja, jamnya biasa. Tidak berkurang. Anak-anak tetep ceria ke sekolah. Walau dengan jaket tebal, syal, dan sarung tangan. Di bulan-bulan ini beberapa kota semarak dengan festival lampu. Ada hari khusus di mana suatu kota benar-benar bermandikan cahaya. Serta festival lampion untuk mengenang jasa St. Martin.

St. Martin de Tours, salah satu orang suci terkenal di gereja Katolik, dulunya adalah punggawa Romawi. Ia kemudian menjadi tokoh agama. Menjadi bishop ketiga di kota Tours, Perancis. Beliau terkenal akan kedermawanannya. Terutama kepada rakyat miskin. Di musim dingin, beliau membagikan roti dan selimut untuk mereka yang membutuhkan. Relik St. Martin masih berada di kota Tours.

Hari St Martin sendiri jatuh pada tanggal 11 November. Sedangkan festival lampion atau Laterneumzug biasanya berlangsung sekitar pertengahan November. Ia ramai dirayakan di taman kanak-kanak serta sekolah dasar di sebagian Jerman.

Seminggu sebelum festival, anak-anak atau orang tua membuat lampion sendiri. Anak-anak membuatnya di sekolah. Saat taman kanak-kanak pun guru mengajarkan anak-anak membuat lampion. Jika tidak sempat, bisa membelinya di toko. Lengkap dengan tongkat berlampu mini. Ada pula yang membuat tongkat sendiri. Lampunya dari lilin kecil. Tapi harus hati-hati memegangnya. Khawatir terbakar. Mereka juga diajari lagu-lagu St. Martin.

Perayaan berlangsung di sore hari. Sekitar pukul 6 sore. Anak-anak berkumpul, membawa lampionnya masing-masing. Lampion tersebut disinari lampu dari tongkat yang dibeli di toko atau dimasuki lilin di dalamnya.

Anak-anak dan orang tua akan berjalan keliling desa atau jalanan di kota. Sambil menyanyikan lagu St. Martin. Diiringi oleh grup musik desa. Seorang sosok berkuda, berperan sebagai St. Martin. Menunggang kuda paling depan.


Rombongan berhenti di sebuah lapangan. Di mana api unggun dinyalakan, dan cerita mengenai St Martin diperdengarkan. Acara seperti ini, melibatkan polisi dan pemadam kebakaran setempat. Setelahnya anak-anak kembali berjalan ke arah sekolah. Bersiap menerima pembagian roti. Buat para orang tua, pihak sekolah menjual kopi dan minuman hangat lainnya. Keuntungannya untuk kegiatan sekolah. 

11 comments:

  1. sambil menyanyi laterne laterne...... :D

    ReplyDelete
  2. Syahdu sekali, bergumul dengan api unggun dan mendengar cerita sang dermawan.

    ReplyDelete
  3. Membayangkan pesta lampion dimusim gugurnya jerman... ngilerrr

    ReplyDelete
  4. Wah mantap gan, dulu di Semarang juga ada sayang waktu itu gak hadir :D

    ReplyDelete
  5. jadi pengen ngerasain pesta lampion juga :(

    ReplyDelete
  6. Ntar tgl 10 ini kita rayakan Mortensaften mak...makan bebek :)

    ReplyDelete
  7. Sepertinya seru festival lampion ala Jerman ini. Jadi pengen merasakan juga suatu hari nanti. Semoga bisa #kumpulinduitlagi
    Salam kenal mbak

    ReplyDelete
  8. Masya Allah, pengalaman mba Ira bikin mupeng.

    ReplyDelete
  9. Pesta lampion yang bersejarah, menurut saya. Karena tradisinya berkaitan dengan sejarah jadiu ada semacam jejak untuk dinapaktilasi. Duh.
    Di sini mah mana ada festival lampion yang berlatar demikian, adanya cuma perayaan untuk menunjang parawisata, he he.

    ReplyDelete